Senin, 25 November 2013

Terorisme dan Pendekatan Kesejahteraan



Terorisme dan Pendekatan Kesejahteraan
Oleh: Agus SB
Deputi I BNPT Bidang Pencegahan, Perlindungan, dan Deradikalisasi

Terorisme tampaknya belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Kendati kita tak menghendakinya, namun rangkaian peristiwa terorisme sepanjang enam bulan terakhir menunjukkan bahwa mereka masih eksis di tengah-tengah kita. Sejak Januari hingga Juni 2013, sedikitnya ada 13 peristiwa terkait terorisme. Mulai dari pengungkapan rencana aksi teror di berbagai daerah, penemuan bom pipa aktif siap ledak, bahan peledak, senjata, hingga serangan terhadap aparat keamanan.
               
Dampak Ekonomi
                Terlepas dari besar kecilnya skala teror yang terjadi, terorisme tak dapat ditolerir dengan alasan apapun. Sebab, dampak yang ditimbulkan tidak hanya korban jiwa nyawa tak berdosa, lebih dari itu membuat daya saing bangsa, baik di tingkat regional maupun internasional menurun. Hal ini tentu mengganggu laju perekonomian nasional yang sedang tumbuh.
Masih segar dalam ingatan kita betapa Bom Bali I tahun 2002 lalu, misalnya, langsung melumpuhkan pariwisata Pulau Dewata. Begitu berita bom tersiar, banyak wisatawan mancanegara dan dalam negeri yang membatalkan kunjungannya. Ini artinya usaha-usaha yang bersandar pada sektor pariwisata seperti hotel, restoran, toko kerajinan tangan dan oleh-oleh, dan jasa lainnya, menjadi terganggu.
Sepinya wisatawan yang berkunjung ke Bali, juga membuat ribuan rakyat kecil yang menggantungkan hidupnya dari jasa pariwisata kehilangan mata pencaharian. Para pegawai hotel, perajin kesenian, karyawan restoran, pemandu wisata, sopir angkutan, dan banyak lagi pekerjaan yang terkait pariwisata terpaksa harus istirahat sementara waktu. Akibat terputusnya penghasilan rutin mereka, tak sedikit keluarga yang jatuh miskin.
Pada saat yang sama, secara nasional kita juga merasakan banyak investor dari luar negeri yang enggan menanamkan modalnya di Indonesia. Sebab, bagi dunia usaha, keamanan dan stabilitas politik sangat penting untuk menciptakan iklim investasi yang sehat. Tak mengherankan jika setelah guncangan Bom Bali I, banyak saham emiten di lantai bursa yang terkoreksi secara signifikan. Dampak jangka panjangnya adalah ketidakpercayaan para pelaku usaha di dalam dan luar negeri terhadap perekonomian nasional.

Solusi
Untuk meminimalisir dampak ekonomi dari terorisme, tak ada cara lain bagi kita kecuali menihilkan teror dari bumi pertiwi. Segala upaya telah dikerahkan pemerintah baik melalui upaya penegakan hukum maupun pencegahan. Kita juga menyaksikan inisiatif dari sejumlah kalangan masyarakat di daerah untuk bersama-sama mencegah terorisme dengan memanfaatkan kearifan lokal masing-masing.
Secara yuridis, belum lama ini, kita juga telah mengesahkan UU No.9 Tahun 2013 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme. Sebagai anggota G20, dengan disahkannya UU tersebut, Indonesia dianggap sebagai negara yang layak untuk bertransaksi keuangan lintas negara. UU ini penting untuk mencegah tindak pidana terorisme dari segi pendanaan. Tanpa pendanaan yang kuat, mustahil terorisme dalam skala yang besar dapat terjadi.
Di samping itu, Indonesia juga bekerjasama dengan negara-negara anggota Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) dalam Counter Terorisme Task Force (CCTF) dimana Indonesia menjadi ketuanya. Dalam Second Senior Officials Meeting APEC di Surabaya, awal April lalu, para delegasi sepakat bekerjasama dalam penanggulangan terorisme. Bagi mereka terorisme merupakan ancaman nyata perekonomian negara-negara di kawasan Asia Pasifik yang penanganannya harus dipikul bersama-sama.
                Di luar upaya-upaya tersebut, kiranya kita perlu menengok kembali faktor yang menyebabkan aksi terorisme. Di antara faktor yang mendorong aksi terorisme, lemahnya fondasi ekonomi diyakini merupakan faktor yang menciptakan pra kondisi seseorang mudah terlibat dalam jaringan terorisme. Dengan kata lain, kemiskinan menjadi salah satu pintu masuk menuju terorisme.
                Bila kemiskinan merupakan pintu masuk menuju terorisme, maka salah satu solusi yang harus dipikirkan untuk mengatasi terorisme adalah menggunakan pendekatan ekonomi atau kesejahteraan. Logikanya, seseorang yang memiliki kecukupan secara ekonomi akan lebih mandiri dan independen sehingga tidak mudah terpapar bujuk rayu ideologi radikal-terorisme. Bagi mereka, hidup akan lebih berarti jika dijalani dengan indah bersama keluarga tercinta. Kesejahteraan ekonomi memberi mereka kesempatan untuk berbuat lebih baik bagi sesama, ketimbang melakukan perbuatan naif terorisme.
                Sejatinya, pendekatan kesejahteraan sebagai upaya deradikalisasi telah dilakukan pemerintah kepada para mantan napi terorisme dan keluarganya. Melalui program rehabilitasi, mereka dibekali berbagai keterampilan untuk dapat hidup normal secara ekonomi seperti warga lain di tengah masyarakat. Namun, lagi-lagi program ini tak dapat dijalankan pemerintah semata. Perlu dukungan masyarakat baik secara moril maupun materil untuk mengantarkan para napi terorisme dan keluarganya kembali ke tengah masyarakat sebagai warga negara yang baik.
                Masyarakat dengan kapasitasnya masing-masing dapat mengambil peran dalam pemberdayaan ekonomi para mantan napi dan keluarganya. Perusahaan-perusahaan juga perlu ambil bagian dengan mengarahkan program corporate social responsibility (CSR) untuk memberdayakan ekonomi mereka. Sebab, bukan hanya pemerintah yang berkepentingan terhadap keamanan dan stabilitas, dunia usaha juga sangat bergantung pada dua hal itu.
                Pada spektrum yang lebih luas, program-program pemerintah yang mengutamakan pro poor dan pro job, langsung maupun tak langsung, sejatinya juga merupakan ikhtiar ke arah sana. Pemerataan ekonomi dan kesejahteraan akan berdampak pada makin kebalnya masyarakat dari propaganda ideologi radikal terorisme. Semoga upaya nyata untuk menggerakkan roda ekonomi rakyat tersebut dapat berkontribusi untuk menciptakan Indonesia yang damai dan bebas dari ancaman terorisme. Mari bersama cegah terorisme. Damailah Indonesiaku.............[]


Tidak ada komentar:

Posting Komentar