Minggu, 24 November 2013

Menggali Nilai-Nilai Budaya Bugis-Makassar

Menggali Nilai-Nilai Budaya Bugis-Makassar
PESAN PUANG RI MAGGALATUNG

(TOKOH CENDEKIAWAN PADA ZAMAN KERAJAAN WAJO-BUGIS)
DI SULAWESI SELATAN

Makkedai Puang Maggalatung, Lempu naacca, Iyanaritu madeceng riparaddeki riwatakkalee, Iyatonaritu temmassarang dewata Seuwae. Naiya riasengnge acca, Iyanaritu mitae munri gau. Naiya nappogau engkapi madeceng napogaui. Narekko engkai maja, ajasija mupogaui nrewei matti jana riko.
Artinya :

Berkata Puang Ri Maggalatung, kejujuran dan kepandaian, itulah yang paling baik ditanamkan pada diri kita, itulah juga yang tak bercerai dengan Dewata Tunggal. Yang disebut pandai ialah kemampuan untuk melihat akhir(akibat) perbuatan. Dan dikerjakannya adalah yang baik, bilamana dapat mendatangkan keburukan, janganlah lakukan. Bilamana tidak baik, jaganlah hendaknya engkau kerjakan, karena kembali juga nanti keburukannya kepadamu.
BAB I
IKHTISAR PETA BUDAYA SUKU-SUKU
DI SULAWESI SELATAN
Suku Bugis dan Makassar merupakan suku-bangsa utama yang mendiami Sulawesi
Selatan, disamping suku-bangsa utama lainnya seperti toraja dan Man-dar.

Suku Bugis mendiami Kabupaten Daerah Tingkat II Bulukumba, Sinjai, bone, Wajo, Sidenreng-Rappang (sidrap), Pinrang, Polewali-Mamasa (Polmas)), Enrekang, Luwu, Pare- pare, Barru, Pangkajene-Kepulauan (Pangkep) dan Maros. Dua Daerah Tingkat II yang disebutkan terakhir (Pangkep dan Maros) merupakan daerah peralihan suku Bugis dan Makassar, Sedangkan Enrekang peralihan Bugis dengan Toraja sering dikenal sebagai orang- orang Duri atau Massenrempulu’.
Suku Makassar mendiami Kabupaten Daerah Tingkat II Gowa, Takalar, Jeneponto,
Bantaeng dan selayar walaupun mempunyai dialek tersendiri.

Berdasarkan rumpun bahasa Daerahnya, maka di Sulawesi Selatan ini ada enam rumpun bahasa, seperti : Bahasa Makassar, Bahasa Bugis, Bahasa Mandar, Bahasa Luwu, Bahasa Toraja, dan Bahasa Massenrempulu’.

Rumpun bahasa Makassar meliputi daerah Gowa, Takalar, Jeneponto(Tauratea), Bantaeng, Selayar, Kajang (Bulukumba), Manipi ( Kecamatan Sinjai Barat Kabupaten Sinjai).

Rumpun bahasa Bugis meliputi daerah Sinjai, Bone, Wajo, Pinrang, Sidenreng-Rappang (sidrap), Bulukumba, Pare-Pare, juga di sebagian daerah Pangkajene-Kepulauan (Pangkep), Maros, Mandar, Enrekang, Barru dan palopo (Luwu).
Rumpun bahasa Mandar meliputi daerah Polmas, Majene dan di sebagian daerah
Pinrang.

Rumpun bahasa Luwu meliputi daerah Luwu dimana sub-sub lokalnya punya bahasa sendiri-sendiri. Di daerah ini ada dua belas bahasa, seperti bahasa Bugis, bahasa Barru, bahasa Siko, bahasa Lubung, bahasa Wotu, bahasa Pajatabu, bahasa Mangkutana, bahasa Saroako, bahasa Paraso, bahasa Siwa, bahasa Toraja dan bahasa Pamuna. Bahasa Bugis digunakan oleh masyarakat dalam kota palopo ( ibu kota kabupaten Luwu) dan daerah pesisir pantai Wotu. Sub-sub lokal bahasa dan karakteristik budaya di daerah ini menandai adanya Sembilan anak-suku.

Rumpun bahasa Toraja meliputi daerah Toraja, terutama Makale dan Rantepao, juga di sebagian wilayah sub lokal Masamba (di daerah Luwu, sekitar enam puluh kilometre utara palopo).

Rumpun bahasa Massenrempulu’ meliputi daerah Massenrempulu’ , terutama Enrekang dan daerah-daerah sekitarnya yang diliputi gunung-gunung: Maspul (Massenrempulu’), yakni di sebagian wilayah Kabupaten Pinrang, Polewali-Mamasa (Polmas) dan Toraja.

Ditinjau dari segi penyebaran bahasa dan jumlah area masyarakat pemakainya, jelas di sini suku Bugis-Makassar merupakan suku-bangsa utama dan terbanyak mendiami daerah kontinental Sulawesi selatan ini. Urutan di bawahnya : Toraja menyusul Mandar.

Bertolak dari pemaparan di atas, penulis mencoba menggali perbendaharaan “ SIRIK” sebagai study Antrophologi Budaya Di Sulawesi selatan. Berikut ini penulis menggungkapkan aspek-aspek “SIRIK” itu sendiri.

Dengan mengkaji unsur-unsur yang bertali temali dengan permasalahan “SIRIK” tersebut, misalnya aspek-aspek “PACCE” (Makassar) , atau “PESSE” (Bugis), tentu saja dalam penggalian nilai-nilai “SIRIK” ini kita akan bersentuhan pula dengan aspek-aspek sejarah kehadiran suku-suku bangsa tersebut, secara selintang pandang. Dan sedikit

banyaknya bersentuhan pula dengan aspek falsafah hidup sikap mental masyarakatnya yang melatar-belakangi permasalahan “SIRIK” yang kita coba gali ala kadarnya melalui Risalah Study Antrophologi ini.

Catatan : Oleh lembaga Bahasa Nasional Cabang III Ujung Pandang, telah diusahakan langkah-langkah pemetaan bahasa-bahasa yang terdapat atau yang dipergun

Tidak ada komentar:

Posting Komentar